Kewajiban Khilafah adalah perkara yang jelas dalilnya berdasarkan Al Qur’an , as Sunnah, dan ijmak Sahabat. Meskipun demikian masih ada yang menyatakan bahwa Khilafah tidak memiliki pijakan nash. Berikut ini tulisan tentang hal itu yang diambil dari kitab ajhizatu ad Daulah al Khilafah (Struktur Negara Khilafah ). Kitab ini dikeluarkan dan diadopsi oleh Hizb at-Tahrir. (redaksi)
Penjajahan adalah metode baku (thariqah) negara kapitalis untuk menguasai negara lain. Yang berbeda adalah bentuknya. Di Irak, Afganistan dan Palestina, militer penjajah langsung menduduki negeri tersebut, membunuh dan merampas kekayaan alam negeri Islam itu. Adapun secara politik hampir semua negeri Islam di bawah dominasi politik negara kapitalis. Penguasa negeri Islam benar-benar dikontrol oleh negara-negara maju. Politik luar negerinya juga sama. Semuanya membebek kepentingan politik negara-negara imperialis seperti Amerika Serikat. Di bidang ekonomi, kekayaan alam negeri-negeri Islam dirampok dengan berbagai cara, baik secara langsung seperti di Irak ataupun atas nama investasi asing, pasar bebas, dan pinjaman utang luar negeri.
Kita yakin, semua bangsa akan menolak penjajah, kecuali para komprador yang menjadi antek-antek penjajah. Yang berbeda adalah bagaimana cara menyikapi penjajahan itu. Pertama: bersikap fatalis. Pasrah bangsa dan negerinya dijajah. Menganggap tidak ada yang bisa diperbuat karena para penjajah sangat kuat. Berlindung di balik takdir. Bangsa seperti ini kemudian menghibur diri bahwa Tuhan pasti akan menolong mereka. Sikap seperti ini jelas tidak menolong sama sekali. Penjajahan akan terus berlangsung, kalau tidak ada yang melakukan perlawanan.
Islam jelas melarang fatalisme seperti ini. Islam mengajarkan kepada kita kaidah sababiyah (kausalitas, sebab-akibat) yang harus kita penuhi dalam beramal. Rasulullah saw. telah memberikan contoh kepada kita. Untuk bisa memenangkan perang, di samping berdoa dengan sungguh-sungguh dan penuh harap, Rasulullah juga merancang strategi perang dan menugaskan orang-orang yang memang mumpuni dalam berperang. Beliau tidak pernah hanya berdiam diri, berharap orang lain menerima dakwahnya. Beliau secara serius dan penuh pengorbanan tidak kenal lelah berdakwah, menyampaikan Islam ke seluruh pelosok negeri.
Kedua: pragmatis. Berpikir jangka pendek dan keuntungan sesaat. Bangsa seperti ini kemudian memilih bersikap kompromistis terhadap penjajahan. Dengan alasan penjajah Barat sangat berat untuk kita lawan, lebih baik kita mengikuti mereka, bekerjasama, sambil tetap meraih keuntungan, walaupun sedikit. Pragmatisme inilah yang sekarang dipilih oleh banyak penguasa negeri Islam.
Kekayaan negeri Islam dibiarkan dirampok atas nama investas asing dan pasar bebas. Perusahaan minyak asing masuk mengekploitasi minyak, emas, batubara, dan kekayaan alam lainnya. Adapun penguasa negeri Islam cukup puas hanya dengan mendapat pajak atau pembagian keuntungan yang sangat kecil. Alasannya, daripada kieta diboikot AS atau diperangi oleh AS.
Untuk mendapat simpati AS atau khawatir diserang AS, negara seperti Saudi, Bahrain, Kuwait dan Turki, alih-alih menolong Irak, malah membantu AS. Negara-negara ini mempersilakan tanah dan udaranya digunakan militer negara penjajah ini. Dari pangkalan militer inilah Irak diserang dan puluhan ribu umat Islam di Irak pun tewas. Musharaf, dengan alasan takut diserang AS, memberikan fasilitas dan kelancaran bagi negara-negara penjajah menyerang saudaranya sesama Muslim di Pakistan dan Afganistan.
Ketiga: perlawanan ideologis. Menolak sama sekali hubungan dengan negara-negara penjajah. Perlawanan ideologis ini dilakukan secara total dengan cara mengganti sistem ideologi Kapitalisme yang menjadi pangkal penjajahan.
Perlawanan ideologis juga ditunjukkan dengan menolak utang luar negeri yang ditawarkan negara-negara kapitalis, karena hanya merupakan perangkap; menolak masuknya perusahaan asing yang ingin merampok kekayaan alam negeri-negeri Muslim; tidak tunduk kepada instruksi IMF, Bank Dunia, dan PBB—institusi yang sesungguhnya merupakan alat politik penjajahan negara imperialis; tidak memberikan celah sedikit pun bagi negara asing untuk menguasai negerinya, melakukan upaya pecah-belah dan disintegrasi.
Perlawanan ideologis ini juga ditunjukkan dengan cara menerapkan syariah Islam dan Khilafah yang akan menghentikan penjajahan negara-negara kapitalis.
Khilafah akan mempersatukan umat Islam dan menjadi negara adidaya yang membebaskan negeri-negeri Islam dari penjajahan. Dengan Khilafah sebagai negara adidaya, umat Islam akan diperhitungkan oleh negara lain. Penghinaan terhadap Islam akan dijawab dengan seruan jihad yang memobilisasi seluruh umat Islam di dunia. Ini jelas akan menimbulkan ketakutan bagi negara-negara Kapitalis.
Tentu, perlawanan ideologis ini membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang besar. Namun, inilah pilihan yang dalam jangka panjang dan tuntas akan menyelesaikan persoalan kaum Muslim. Sangat mungkin pada tahap awal umat Islam akan mengalami kesulitan. Namun, kesulitan ini tidak akan berlangsung lama. Tegaknya Khilafah yang menerapkan syariah Islam secara total akan menjamin kemakmuran, kesejahteraan, dan keamanan bagi rakyat.
Sebaliknya, dengan bersikap kompromistis, seakan-akan kita mendapat keuntungan. Kita, misalnya, mendapat hibah atau bantuan utang luar negeri. Padahal utang luar negeri justru menjerat negeri-negeri Islam, menimbulkan ketergantungan, dan pada gilirannya dijadikan alat untuk mendikte negeri-negeri Islam. Bagi negara kapitalis, no free lunch (tidak ada makan siang gratis); pasti ada motif di balik semua itu. Bantuan AS ini hanya gincu saja untuk menutupi agenda jahatnya. Agar tampak manis AS memberi bantuan jutaan dolar. Namun, melalui Exxon, Freeport, Caltex, Newmont, dsb, AS mendapat ratusan miliar dolar dari penguasaan sumberdaya alam di negeri-negeri Muslim.
Sikap pragmatis dan kompromis kepada penjajah membuat negeri-negeri Islam lemah dan tidak punya harga diri. Akibatnya, umat Islam tampak lemah menyelamatkan saudaranya di Bosnia, Irak, Palestina dan Afganistan. Berbagai penghinaan terhadap Islam, al-Quran dan Rasulullah pun terus berlangsung. Karena dikontrol oleh negara maju, penguasa negeri-negeri Islam memilih diam, mengecam seadanya, dan tidak melakukan tindakan kongkret.
Sebagai Muslim sejati, pastilah kita memilih pilihan yang benar, yakni perlawanan ideologis.
من كانَ يُرِيْدُ العِزّةَ فَللهِ العِزّةُ جَمِيعًا, إلَيهِ يَصْعَدُ الكَلِمُ الطَّيِّبُ و العَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ, والّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لهم عَذَابٌ شَدِيدٌ, ومَكْرُ أُوْلَئِكَ هُو يَبُورُ (فاطر : 10 )
“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya, kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik (semua yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya), dan amal yang sholeh dinaikkannya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan, bagi mereka adzab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.”
Tolok ukur kemuliaan dalam pembahasan ini adalah kemuliaan menurut pandangan Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan berdasarkan pandangan manusia. Karena jika agama ini dibangun berdasarkan pendapat akal manusia, ada kalanya manusia menganggap/menilai terhadap seseorang itu “mulia” namun kenyataannya menurut ukuran Allah ternyata orang itu “hina”, sehingga Allah Ta’ala menghinakannya. Adakalanya suatu kaum membesar-besarkan atau memuliakan seseorang pada suatu waktu, namun ketika zaman telah berubah dan rezim-pun berganti orang tersebut dihina dan dicaci-maki oleh kaum itu sendiri, sehingga nampak di tengah-tengah masyarakat saat ini bahwa, ada sesuatu yang hilang pada diri ummat, yaitu tolok ukur untuk menentukan standar “kemuliaan” atau “kehinaan”. Berdasarkan firman Allah pada ayat di atas, nilai kemuliaan itu seluruhnya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, demikian juga penilaian terhadap hina atau rusaknya suatu ummat atau generasi juga ditentukan oleh Allah Swt. Orang-orang yang memiliki perkataan terpuji, beriman dan beramal sholeh adalah orang yang mulia di sisi Allah Swt, sementara orang-orang yang makar kepada Allah dan berbuat kerusakan dinilai oleh Allah sebagai kejahatan. Dan sesuatu yang telah dinilai Allah terpuji hingga hari kiamat dinilai terpuji, namun jika Allah menilai sesuatu itu tercela, maka hingga hari kiamat sesuatu itu tetap tercela/terhina. Berbakti kepada kedua orang tua misalnya adalah terpuji, maka hingga hari kiamat bernilai terpuji, sementara itu mencuri/korupsi adalah perbuatan tercela maka hingga hari kiamat perbuatan itu tercela menurut pandangan Allah Swt, berdakwah adalah terpuji, sementara berkhianat adalah tercela, dan seterusnya.
Adapun gambaran terhadap orang-orang yang memiliki derajat mulia di sisi Allah Swt adalah generasi para sahabat dan para pengikut yang setia mengikuti sunnah-sunnah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firmannya :
…رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ, ذالِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبّهُ (البيّنة : 8 )
“…Allah ridha terhadap mereka (para sahabat dan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh), mereka-pun ridha kepada-Nya. Demikian itu adalah (balasan) bagi orang-orang yang takut kepada Tuhan-nya.” (al-Bayyinah [98]:8)
إنّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أتْقَاكُمْ , إنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu, sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.”
(al-Hujuraat [49]:13)
Sehingga upaya mengembalikan kemuliaan ummat pada saat ini, di mana ummat dalam kondisi pada titik nadzir (generasi yang paling buruk) dibandingkan dengan genarasi sebulumnya, karena tidak pernah ummat Islam generasi sebelumnya mengalami keadaan seperti yang yang terjadi pada saat ini, yakni jauhnya ummat dari pemahaman pemikiran Islam secara menyeluruh (syumuliyah), sehingga hampir sulit membedakan dan mengenal perilaku ummat ini mana dintaranya yang beriman dan yang kafir, karena tingkah laku, sikap dan perkataan mereka hampir serupa. Kecuali hanya sedikit terhadap orang-orang yang telah dikecualikan oleh Allah Swt, begitu pula tidak diterapkannya sistem dan hukum Islam di tengah-tengah masyarakat, sehingga menambah kehancuran dan kehinaan generasi saat ini, maka upaya untuk mengembalikan kemuliaan ummat pada saat ini tidak lain harus mencontoh Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia, yaitu dengan cara menjadikan ummat generasi saat ini memiliki kesadaran Islam dan terikat dengan aturan-aturanya, baik dalam bertingkah laku ataupun perkataannya, serta berusaha mewujudkan sistem hukum yang berlaku di tengah-tengah masyarakat dengan menerapkan syari’at Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Untuk mewujudkan kedua target di atas, Rasulullah telah mencontohkan keberhasilannya dengan aktifitas dakwah amar ma’ruf nahi munkar, yang harus dilakukan oleh segenap kaum muslimin maupun muslimat, meskipun teror dan penculikan-penculikan serta penganiayaan terhadap para pengemban dakwah tengah terjadi saat ini, karena Rasulullah telah memberikan pilihan kepada kita ; ingin hidup Mulia ? ataukah terhina ? sabda Rasulullah :
لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنكَرِ اَوْ لَيُسَلِّطَنَّ عَلَيكُمْ شِرَارَكُمْ , فَيَدْعُوا خِيَارُكُمْ فَلاَ يُسْتَجابُ لَهُمْ
“Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan harus mencegah mereka dari kemungkaran, Bila tidak demikian, pastilah Allah akan menjadikan orang-orang jahat untuk menguasai kalian. Dan orang-orang terbaik di antara kalian berdo’a (untuk keselamatan), maka do’a mereka tidak dikabulkan.” (HR al-Bazzar dan Thabraniy)
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam kepada suatu kaum yang tidak berjuang dan berdakwah menyampaikan risalahnya di tengah-tengah masyarakat maka Allah akan menimpakan berbagai macam fitnah yang tidak hanya menimpa bagi orang yang berbuat saja tetapi akan ditimpakan juga bagi suatu kaum yang tidak mau mencegah perbuatan mereka, sebagai mana firman-Nya :
واتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَةً , وَاعْلَمُوا أنّ اللهَ شَدِيدُ العِقاب
“Dan jagalah dirimu dari bencana yang tidak hanya khusus menimpa orang-orang dzolim saja di antaramu. Dan ketahuilah, sesungguhnya siksa Allah itu sangat keras.” QS al-Anfal : 25
Rasulullah menjelaskan dan mengingatkan ayat tersebut, dengan peringatan yang keras, sebagaimana sabdanya : “Sesungguhnya manusia bila melihat kemungkaran, sedangkan mereka tidak berusaha mencegahnya, maka tunggulah saat Allah akan menurunkan adzabNya secara menyeluruh.” ( HR. abu Dawud)
Read more ...
Tugas negara pula untuk menjamin pendidikan para ibu. Pendidikan dengan kurikulum yang tepat. Agar para ibu tidak hanya menjadikan materi sebagai orientasi hidupnya. Namun sesungguhnya, ibu punya tanggungjawab besar di pundaknya untuk masa depan bangsa. Maka, tidak salah kalau dikatakan perempuan adalah tiang negara. Bila tiang itu roboh, maka tunggulah waktu keruntuhan negara.
Read more ...Tegakkan sholat lima waktu, Ayah dan anak laki-laki berjama’ah di masjid, ibu dan anak anak wanita berjama’ah di rumah.
- Berwudlu dengan sebagus bagusnya.
- Sholat witir 3 rakaat, (boleh juga dilakukan setelah bangun tidur malam di akhir qiyamu lail) atau menjelang sholat subuh.
- Bersihkan tempat tidur dengan kemoceng /sulak, sebelum kita naik ke pembaringan.
- Bacalah ayat Kursiy (al-Baqarah : 255, 256, 257) dan dua ayat terakhir al-Baqarah, yaitu ayat : 285 - 286
- Setelah berbaring, kumpulkan kedua telapak tangan di depan mulut, lalu tiuplah dan bacakan surah al-Ikhlash, an-Naas, dan al-Falaq, kemudian usapkanlah keseluruh tubuh mulaidari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan, ulangilah sebanyak tiga kali.
- Berbaringlah dengan miring ke kanan, dengan telapak tangan kanan menempel di bawah pipi kanan, lalu berdo’alah :
- Berniatlah untuk bangun di 2/3 malam untuk sholat sunnah qiyamul-lail/tahajjud.